Kolaborasi Rare Indonesia-Pemkab Buton, 4.791 Nelayan Dapat Pendampingan Perikanan

PASARWAJO, HELIONEWS – Rare Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Buton memberikan pendampingan perikanan kepada 4.791 nelayan di 62 desa pesisir di Kabupaten Buton. Program ini dijalankan melalui Pengelolaan Akses Area Perikanan (PAAP) untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) masyarakat nelayan.

Kolaborasi tersebut diperkuat melalui audiensi Rare Indonesia dengan Pemkab Buton di Ruang Kerja Sekda Buton, Takawa, Pasarwajo, Senin (02/02/2026). Rare Indonesia diterima oleh Sekda Buton La Ode Syamsudin, SPd, MSi, mewakili Bupati Buton, bersama Kepala Dinas Perikanan Rasmin Rahman, SPi, MMA; Kepala Bappeda Drs. Awaluddin; dan Kadis Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Drs. Murtana Muru, MA.

Perwakilan Rare Indonesia yang hadir antara lain Wa Ode Anna Dianna Sastri Chaidir, Senior Manager Policy and Partnership; La Ode Ridwan, Konsultan Penasehat Kebijakan; dan Megawati, Konsultan Kemitraan Desa.

Menurut Wa Ode Anna, program PAAP telah dijalankan di tujuh kawasan di Kabupaten Buton, yakni Kapontori (8 desa), Siotapina Lasel (7 desa), Wabula (4 desa), Ngapa Toowa (7 desa), Kolowa Pasarwajo (12 desa), Sangia Waode (10 desa), dan Lasalimu (14 desa). Kawasan Lasalimu dimulai pada 2025 sebagai proyek percontohan dengan pendanaan Impact Bond IBF.

“Program ini mendukung bisnis perikanan skala kecil melalui pendampingan dan pencatatan transaksi ikan secara daring. Data yang terkumpul membantu kelompok nelayan mengambil keputusan dalam pengelolaan perikanan di kawasan mereka,” kata Wa Ode Anna.

Berdasarkan data OurFish, sebanyak 156 ton ikan yang ditangkap di kawasan PAAP Kabupaten Buton telah tercatat, menunjukkan tren peningkatan volume tangkapan sejak pencatatan dimulai pada 2020 hingga 2025. Data ini dianalisis bersama kelompok PAAP dan Rare Indonesia untuk perencanaan pengelolaan perikanan yang lebih berkelanjutan.

Selain pencatatan transaksi, program PAAP memberikan edukasi kepada nelayan tentang konservasi wilayah pesisir, pengelolaan sumber daya alam, dan pendekatan berbasis masyarakat. Rare juga melatih kelompok masyarakat dalam manajemen kelembagaan, keuangan, dan organisasi, serta menyediakan pendanaan hibah untuk kegiatan pengelolaan perikanan.

Pelatihan tambahan meliputi literasi keuangan, pembentukan kelompok simpan pinjam, peningkatan kapasitas pembeli dan pengolah ikan, serta pelatihan pembuatan olahan ikan, seperti abon, yang digelar di kawasan Wabula.

Sejak 2021 hingga 2025, program pemberdayaan ekonomi ini telah melatih 726 nelayan tentang literasi keuangan, mendaftarkan 496 nelayan dalam asuransi BPJS Ketenagakerjaan, dan membentuk 18 KSP PAAP aktif. Rare Indonesia juga menyiapkan tenaga konsultan kemitraan desa dan staf lapangan untuk pendampingan desa-desa pesisir serta pengawalan program ARUS (Action for Resilient and Sustainable Seas).

Selain itu, Rare bekerja sama dengan ITK Buton dan Pemkab Buton menyusun Buku Peta Jalan Ekonomi Biru Kabupaten Buton, sebagai pedoman pembangunan dan referensi regulasi pengelolaan perikanan berbasis masyarakat.

Sekda Buton, La Ode Syamsudin, menyampaikan dukungan penuh pemerintah terhadap kolaborasi ini. “Program Rare Indonesia selaras dengan kearifan lokal di Buton, seperti tradisi ombo di Dongkala dan Kondowa. Tradisi ini menunjukkan bagaimana masyarakat menjaga hasil laut dan lingkungan pesisir secara berkelanjutan,” ujar Sekda.

Ia menambahkan, program ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelaku perikanan, taraf hidup nelayan, dan kesejahteraan masyarakat pesisir Kabupaten Buton. “Kami mengapresiasi Rare Indonesia atas pendampingan, pengetahuan, dan keterampilan yang diberikan kepada masyarakat nelayan,” tutupnya.

Editor: Kasim

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

IKLAN

BERITA POPULER

Recent Comments