BATAUGA, HELIONEWS – Sebuah sumur yang selama ini menjadi sumber air bagi sedikitnya tujuh rumah warga di Desa Lamaninggara, Kecamatan Siompu Barat, Kabupaten Buton Selatan, ditutup setelah airnya diduga mengalami pencemaran. Temuan awal di lapangan mengarah pada adanya gangguan pada Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) milik dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Siompu Barat Lamaninggara.
Akibat kondisi tersebut, warga yang selama ini bergantung pada sumur itu terpaksa mencari sumber air bersih alternatif.
Kepala SPPG Siompu Barat Lamaninggara, La Ode Muhammad Nofri Mahsar, mengatakan dirinya baru mengetahui adanya dugaan pencemaran setelah menerima informasi dari Puskesmas Siompu Barat.
“Saya baru mengetahui adanya sumur yang diduga tercemar setelah mendapat informasi dari pihak Puskesmas. Setelah saya konfirmasi kepada asisten lapangan, memang benar sumur tersebut sudah jarang digunakan oleh warga,” kata Nofri saat ditemui, Sabtu (18/7/2026).

Dinkes Temukan Gangguan pada IPAL
Nofri menjelaskan, penutupan sumur baru diketahuinya saat mendampingi tim Dinas Kesehatan Kabupaten Buton Selatan melakukan peninjauan langsung ke lokasi.
Dari hasil pemeriksaan lapangan, ditemukan adanya gangguan pada sistem IPAL sehingga proses pengolahan limbah tidak berjalan sebagaimana mestinya. Namun demikian, belum ada hasil uji laboratorium yang memastikan apakah kondisi tersebut menjadi penyebab perubahan kualitas air sumur warga.
“Saat kami turun bersama Dinas Kesehatan, ditemukan bahwa IPAL mengalami masalah sehingga siklus pembuangan limbah tidak berjalan normal. Kondisi itu sudah kami perbaiki saat libur sekolah kemarin,” ujarnya.
Ia menambahkan, berdasarkan informasi dari pihak mitra penyelenggara, penutupan sumur telah dikomunikasikan dengan warga terdampak.
Menurutnya, warga juga telah difasilitasi pengadaan pipa untuk mengalihkan pengambilan air dari sumber lain.
Mitra SPPG Akui Beri Bantuan
Sementara itu, PIC Yayasan Sultan Mars, Lisnawati, membenarkan adanya sumur warga yang diduga mengalami pencemaran.
Ia mengatakan pihak yayasan telah memberikan bantuan kepada warga sebagai solusi sementara.
“Memang benar ada sumur warga yang mengalami pencemaran. Kami sudah memberikan bantuan berupa pembelian pipa dan kebutuhan lainnya agar warga bisa mengambil air dari sumber lain,” ujar Lisnawati.
Warga Sebut Air Berubah Warna dan Berbau
Berbeda dengan keterangan pihak pengelola, salah seorang warga terdampak, Wa Sunu (50), mengaku belum menerima bantuan maupun kompensasi secara langsung.
Ia mengatakan sumur tersebut telah digunakan sejak lama sebagai sumber air utama bagi keluarganya dan enam rumah lainnya.
Menurut Wa Sunu, kondisi air mulai berubah setelah dapur SPPG mulai beroperasi.
“Kami sudah menggunakan sumur itu sejak awal tinggal di sini. Setelah dapur mulai beroperasi, air berubah warna dan berbau sehingga kami bersama warga lain terpaksa mencari sumber air yang lain,” katanya.
Ia juga mengaku belum mendapatkan kompensasi maupun penyampaian permohonan maaf secara langsung.
“Kalau saya sendiri belum ada bantuan ataupun ganti rugi dari pihak dapur, begitu juga penyampaian permohonan maaf,” ujarnya.
Penyebab Masih Menunggu Kepastian
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada hasil uji laboratorium yang memastikan penyebab perubahan kualitas air pada sumur tersebut.
Meski temuan awal menunjukkan adanya gangguan pada sistem IPAL dapur SPPG, diperlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan apakah pencemaran benar berasal dari aktivitas dapur atau dipengaruhi faktor lain.
Pemerintah Kabupaten Buton Selatan melalui instansi terkait diharapkan segera menyelesaikan proses pemeriksaan agar warga memperoleh kepastian mengenai penyebab pencemaran sekaligus memastikan akses terhadap air bersih tetap terpenuhi.
Penulis: Febri
