BATAUGA, HELIONEWS – Di sebuah rumah sederhana yang berdiri di tengah hamparan kebun di Kabupaten Buton Selatan, tangis haru akhirnya pecah setelah penantian panjang selama bertahun-tahun. Bagi keluarga La Ode Rusman (47) dan Mastia (46), tahun 2026 menjadi momen yang akan selalu dikenang. Putra bungsu mereka, La Ode Deni Darusman (20), berhasil lulus seleksi Tamtama TNI Angkatan Darat Gelombang II.
Keberhasilan itu bukan sekadar kabar kelulusan. Di balik seragam loreng yang segera dikenakan Deni, tersimpan kisah perjuangan seorang anak petani yang nyaris mengubur cita-citanya karena keterbatasan ekonomi.
Mimpi yang Tumbuh Sejak Bangku Sekolah
Keinginan menjadi prajurit TNI telah tumbuh dalam diri Deni sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Setelah menamatkan pendidikan di Madrasah Aliyah Bola pada 2023, ia menyampaikan cita-citanya kepada kedua orang tuanya.
Namun, keinginan tersebut langsung berbenturan dengan kenyataan. Penghasilan keluarga yang hanya mengandalkan hasil kebun membuat orang tuanya merasa tidak mampu membiayai berbagai kebutuhan untuk mengikuti seleksi.
“Waktu anak kami lulus sekolah, dia langsung bilang ingin jadi tentara. Tapi kami belum mampu. Kami tidak punya uang,” kenang Mastia dengan mata berkaca-kaca.
Meski demikian, Deni memilih tetap berjuang. Hampir setiap hari ia berlatih fisik secara mandiri. Saat sebagian orang beristirahat pada siang hari, ia justru berlari di bawah terik matahari, menjaga pola makan, dan mempersiapkan diri tanpa fasilitas khusus.
Di sisi lain, sang ibu hanya mampu mengingatkan kondisi ekonomi keluarga.
“Kami selalu bilang, ‘Nak, kita tidak punya uang.’ Tapi dia tidak pernah menyerah,” tuturnya.
Merantau Menjadi Buruh Tambang
Karena kondisi ekonomi yang semakin sulit, Deni memutuskan merantau ke Weda pada 2023 untuk bekerja sebagai buruh tambang.
Keputusan itu bukan berarti mengubur mimpinya menjadi tentara. Justru dari hasil kerja kerasnya, ia berharap dapat membantu orang tua sekaligus mempersiapkan diri mengikuti seleksi TNI.
Meski jauh dari kampung halaman, Deni tetap menjaga kebugaran fisik dan tidak pernah berhenti berharap suatu saat impiannya bisa terwujud.
Pertemuan yang Menghidupkan Harapan
Di tengah kebingungan, Mastia memberanikan diri menemui Bupati Buton Selatan, H. Muhammad Adios, untuk menceritakan perjuangan putranya.
Ia mengaku hanya berharap mendapat dukungan moral agar Deni tetap percaya diri mengikuti seleksi.
“Saat itu Bapak Bupati langsung menemui kami. Alhamdulillah beliau menyambut baik, memberi motivasi, dan bersedia membantu,” ujar Mastia.
Sejak pertemuan tersebut, Mastia rutin menyampaikan perkembangan tahapan seleksi putranya kepada Bupati.
Menurutnya, setiap respons yang diterima menjadi penyemangat tersendiri bagi keluarganya.
“Bagi saya, komunikasi itu menjadi obat dari semua getir hidup kami,” katanya.
Penantian Berbuah Kelulusan
Penantian panjang itu akhirnya berakhir pada pertengahan 2026. Nama La Ode Deni Darusman resmi dinyatakan lulus seleksi Tamtama TNI AD Gelombang II.
Bagi keluarga sederhana itu, kabar tersebut menjadi jawaban atas doa yang selama ini dipanjatkan.
Mastia juga menyampaikan apresiasi kepada Bupati Buton Selatan serta Pangdam yang, menurutnya, mendorong agar proses seleksi calon prajurit berlangsung secara profesional, transparan, dan bebas dari praktik pungutan liar.
Seragam Loreng Bukan Akhir Perjuangan
Bagi Deni, keberhasilan mengenakan seragam TNI bukanlah garis akhir dari perjalanan hidupnya. Sebaliknya, itu menjadi awal tanggung jawab baru untuk mengabdi kepada bangsa sekaligus membalas perjuangan kedua orang tuanya.
Sementara bagi Rusman dan Mastia, kisah anak mereka menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi tidak selalu menjadi penghalang untuk meraih cita-cita.
Di balik setiap langkah Deni menuju gerbang pendidikan militer, ada doa seorang ibu petani, kerja keras seorang ayah yang mengolah kebun, serta keyakinan bahwa mimpi anak-anak dari pelosok daerah pun dapat terwujud ketika disertai ketekunan, kejujuran, dan dukungan dari orang-orang yang percaya pada masa depan mereka.
Penulis: Febri
