Sederhana itu Nurani, Perubahan itu Cita-cita
Oleh: Kasim/HelioNews
Di tengah kesibukannya sebagai Ketua Komisi II DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara, Syahrul Said, S.Sos., masih kerap terlihat sederhana. Tak jarang, pria yang akrab disapa Bang Arul itu turun langsung ke kebun dan sawah atau memancing di laut bersama warga. Di tangannya, cangkul dan kail bukan sekadar alat — tapi simbol kerja keras dan kedekatan dengan akar kehidupan masyarakat kepulauan.
“Berbuatlah dan bekerjalah dengan ikhlas, dibarengi doa. Niscaya rezeki akan datang dari arah yang tak disangka,” ucapnya suatu ketika, menegaskan prinsip hidup yang ia pegang sejak muda.
Langkah Awal dari Jalanan Kota Kendari
Perjalanan Syahrul Said menuju kursi legislatif bukanlah kisah instan. Ia meniti dari bawah — dari jalanan Kota Kendari sebagai sopir pete-pete. Saat itu, ia masih menempuh kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Halu Oleo, jurusan Administrasi Negara.
Hidup sederhana membuatnya harus pandai membagi waktu antara belajar dan mencari nafkah. “Saya ingin mandiri, tidak mau menyusahkan orang tua,” kenangnya. Dari rutinitas itu, ia belajar tentang realitas masyarakat dan kerasnya perjuangan hidup.
Karena kedisiplinan dan kejujurannya, ia dipercaya menjadi sopir pribadi salah satu dosen di kampusnya. Dari situlah pintu dunia politik terbuka. Ia mulai mengenal dinamika kebijakan publik dan melihat politik bukan sekadar perebutan kekuasaan, tapi jalan pengabdian.
Jatuh Bangun di Dunia Usaha dan Politik
Sebelum menjadi wakil rakyat, Syahrul lebih dulu menapaki dunia bisnis. Ia pernah mengelola pelayaran kapal cepat dengan rute Kendari–Raha–Baubau, lalu beralih ke usaha penyewaan alat berat. Tak mudah, jatuh bangun mewarnai perjalanannya.
Namun kegigihan Syahrul tak hanya diuji di dunia usaha. Dalam politik pun, ia pernah merasakan pahitnya kegagalan. Pada Pemilu 2014, ia sempat maju sebagai calon legislatif, namun gagal terpilih — hanya selisih 45 suara dari pesaingnya. Saat itu, ia hanya bermodalkan semangat dan silaturahmi.
“Gagal itu bagian dari proses. Dari situ saya belajar banyak tentang arti konsistensi dan pentingnya menjaga hubungan baik dengan masyarakat,” ujarnya.
Kegagalan itu justru menjadi cambuk untuk bangkit. Ia menata langkah, memperkuat jaringan, dan terus menjaga hubungan sosial di akar rumput.
Perjuangan Tanpa Modal Besar
Lima tahun kemudian, di Pemilu 2019, perjuangannya membuahkan hasil. Ia maju kembali sebagai calon anggota DPRD Provinsi Sultra dari Partai NasDem di daerah pemilihan Sultra IV — meliputi Baubau, Buton, Buton Tengah, Buton Selatan, dan Wakatobi.
Tanpa modal finansial besar, ia hanya mengandalkan restu orang tua, dukungan keluarga, dan kepercayaan masyarakat. “Yang saya bawa hanya doa,” katanya merendah. Hasilnya tak mengecewakan — ia berhasil duduk di kursi DPRD, dan kini kembali terpilih untuk periode kedua (2024–2029).
Dekat dengan Masyarakat, Turun Tanpa Sekat
Sejak duduk di parlemen, Syahrul dikenal aktif turun langsung ke lapangan. Ia mendatangi konstituennya, mendengar keluhan, dan ikut membantu masyarakat tanpa banyak protokol.
Selama masa jabatannya 2019–2024, ia kerap menyalurkan bantuan sosial berupa beras kepada masyarakat di daerah pemilihannya. Bagi Syahrul, kepedulian sosial bukan pencitraan, tapi kewajiban moral.
Kini di periode keduanya, ia semakin fokus mengembangkan potensi sektor pertanian dan perikanan, dua sektor yang menurutnya paling strategis bagi kesejahteraan masyarakat kepulauan di Sulawesi Tenggara.
“Jangan biasakan mengatakan kepada anak-anak kita: jangan jadi petani, jangan jadi nelayan, nanti susah seperti bapak-ibu. Ubah mindset itu. Katakan: kalau mau jadi petani, jadilah petani yang sukses. Terus belajar dan kembangkan,” pesannya setiap kali bertemu warga atau mahasiswa.
Pesan itu bukan sekadar retorika. Di rumahnya sendiri, Syahrul mulai menanam berbagai komoditas di pekarangan. Beberapa lahannya kini ia manfaatkan untuk bercocok tanam dan mengajarkan keluarga arti kemandirian pangan.
Sederhana, Tapi Penuh Teladan
Meski sudah dua periode menjadi anggota DPRD, kesederhanaan Bang Arul tetap terasa. Ia tetap suka turun tangan langsung, tak canggung membawa cangkul atau memancing bersama warga pesisir. Bagi Syahrul, menjadi pemimpin bukan soal jabatan, tapi soal kebermanfaatan.
Sosok ayah dua anak ini memberi inspirasi lewat ketulusan dan keteguhan. Ia menunjukkan bahwa kerja keras, kejujuran, dan doa adalah fondasi dari setiap kesuksesan.
“Kalau kita tulus berbuat, kesempatan dan rezeki akan datang tanpa kita duga,” tuturnya sambil tersenyum — kalimat sederhana, tapi mencerminkan filosofi hidup seorang pejuang yang lahir dari rakyat dan tetap berpihak kepada rakyat. ***
