Dari Manis Jadi Pahit: Kisah Petani Jeruk Siompu Melawan Penyakit Mematikan

HELIONEWS – Dahulu, aroma segar jeruk Siompu selalu menjadi tanda kemakmuran bagi warga Pulau Siompu. Buah berwarna jingga cerah dengan rasa manis segar itu menjadi ikon kebanggaan Buton Selatan. Namun kini, keharuman itu mulai memudar. Di balik rimbun pohon jeruk, tersimpan kisah pilu petani yang berjuang melawan penyakit mematikan yang mengancam punahnya jeruk khas daerah mereka.

Hama Mematikan di Balik Daun Menguning

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Buton Selatan, LM. Idris, mengungkapkan bahwa pada tahun 2024 pihaknya mengundang tenaga ahli dari Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) untuk meneliti penurunan hasil panen jeruk Siompu yang terus terjadi tiap tahun.

Hasil penelitian menemukan bahwa jeruk Siompu terserang penyakit Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD), yang disebabkan oleh bakteri Candidatus Liberobacter asiaticum dan ditularkan oleh kutu loncat jeruk (Diaphorina citri).

“Penyakit ini sangat berbahaya. Gejalanya daun menguning, buah mengecil dan rasanya pahit. Jika tidak dimusnahkan, tanaman bisa mati total,” ujar Idris di kantornya, Senin (21/10/2025).

Menurutnya, sebagian besar petani enggan memusnahkan pohon jeruk yang terinfeksi, karena dianggap masih bisa berbuah. Padahal, tindakan itu justru mempercepat penyebaran penyakit ke tanaman lain.

Upaya Penyelamatan dari Malang

Sebagai langkah penyelamatan, Dinas Pertanian Buton Selatan telah memberikan bantuan 100 bibit jeruk Siompu yang bersumber dari Malang, Jawa Timur — tempat dua pohon jeruk Siompu asli masih tumbuh sejak 1982.

“Kami juga menerima 60 bibit tambahan yang kini kami tanam di greenhouse untuk pelestarian. Ini bagian dari upaya mempertahankan plasma nutfah jeruk Siompu yang mulai terancam punah,” jelas Idris.

Ia menambahkan, jeruk Siompu kini telah mengalami banyak perubahan varietas akibat pembibitan dari biji (sibling), bukan dari cangkok. Hal itu membuat karakter buah berubah, baik dari jumlah siung maupun cita rasanya.

Suara dari Kebun: Jeruk yang Tak Lagi Manis

Kepala Desa Kaembulawa, La Bimba, mengenang masa kejayaan jeruk Siompu pada tahun 2010–2011, saat kebun warga penuh buah ranum dan pembeli datang hingga ke kebun.

“Dulu orang antre beli jeruk ke kebun, tapi sejak 2019 penyakitnya makin parah. Panen menurun drastis, kualitasnya pun berubah,” katanya.

Ia menyesalkan hasil penelitian Balitjestro tidak segera disosialisasikan ke masyarakat, sehingga petani tidak tahu langkah pencegahan yang tepat.

Hal senada disampaikan Sudirman, Kepala Desa Waindawula, yang mengaku kehilangan puluhan pohon akibat hama.

“Saya tanam 68 pohon dari biji, disiram pagi sore, tapi akhirnya mati semua. Batangnya berbusa, berulat, lalu akarnya busuk. Tak lama pohonnya mati. Saya rugi puluhan juta,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Petani lain, La Pomilu, bahkan mengaku trauma untuk kembali menanam jeruk setelah seluruh kebunnya mati pada 2017.

“Saya menangis di tengah kebun waktu lihat pohon satu per satu mati. Padahal sudah empat tahun saya rawat,” tuturnya lirih.

Ancaman Kepunahan di Depan Mata

Dinas Pertanian memperkirakan, jika tidak ada langkah konkret dan koordinasi lintas sektor, jeruk Siompu akan sulit diselamatkan.

Idris menegaskan, satu-satunya cara menjaga kelangsungan varietas asli adalah dengan pembibitan cangkok dan isolasi kebun menggunakan waring anti-kutu.

“Kita perlu lahan 5–10 hektare khusus untuk pelestarian jeruk Siompu. Jika tidak dilakukan, jeruk ini akan punah karena penyakit CVPD belum ada obatnya,” tegasnya.

Kini, di tengah kebun-kebun yang mulai sepi, para petani masih menyimpan harapan. Mereka percaya, dengan perhatian pemerintah dan dukungan penelitian yang berkelanjutan, manisnya jeruk Siompu akan kembali terasa — bukan hanya di lidah, tetapi juga di hati masyarakat Buton Selatan. (a)

Peliput: Febri
Editor: Kasim

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

IKLAN

BERITA POPULER

Recent Comments